Cerita Seks Hijab Rozah Yang Binal 4 - Cerita 69

Breaking

Cerita 69

Cerita 69 Cerita seks sedap dan nikmat

Definition List

Post Top Ad

Post Top Ad

Tuesday, November 23, 2021

Cerita Seks Hijab Rozah Yang Binal 4

"Gak gerah kamu dek, malam-malam gini pake baju panjang gitu, kenapa masih pakai kerudung juga." Tanya suamiku. Setelah tadi berhasil membujukku dengan susah payah.

Candaan mas Aris tadi keterlaluan. Aku bahkan tak sanggup tertawa. Harusnya memang lucu, dan biasanya memang selalu lucu, bisa bikin kita makin tambah mesrah. Tapi entah kenapa ada rasa takut di hatiku. Janjiku yang terucap untuk mas Iyant tadi, kemesraan terlarang dengan mas Iyant tadi. Membuatku berfikir apa aku masih setia? Aku takut mas Aris tau.

Ah, sudahlah. Sekarang, sepertinya mas Aris mau mencumbuku, hihihihi.... dia merasa bersalah tadi.

Aku lagi tiduran tengkurap, dan Masih pura-pura sebel sama mas Aris, aku cuekin.

"Bercandamu gak lucu mas!" Kataku.

"Duh, mas makin gemes aja lihat kamu merajuk dek. Ckckckck.....manjanyaaaa..." goda suamiku.

"Iiih.....ngapain sih maaaasss...." mas Aris meremas bokongku, "gak malu apa, situ kan Ustadz."

Mas Aris diam. Sepertinya dia tak terima dengan kata-kataku. Dia mendekatiku yang masih tengkurap. Dia duduk bersila, kakinya di timpukan di atas kedua kakiku, bermaksut menahanya.

Aku tersenyum aja melihat tingkahnya. "Dasar Ustadz mesum," aku bergumam pelan, tapi pasti masih didengarnya.

"Enak aja kamu dek, ngatain suamimu Ustadz mesum. Lah, kalau ini...."

"Kyaaaaa..." pekik-ku kaget. Aku tak bisa berontak Karena Kedua kakiku ditindih kakinya.

"Ini juga apa namanya kalau bukan Ustadzah mesum. Hahahha....." balas suamiku. Dia mengangkat rok panjangku sampai pinggang. Menampakkan bongkahan pantatku yg putih, kenyal dan mulus, "Ustadzah yang gak pernah pakai celana dalam kalau di rumah. Hahaha..."

Hahahahah....... aku tertawa malu sendiri, "sudah kebiasaan mas dari masih perawan dulu, lebih lega aja rasanya . Sejuk."

"Emmmhhhh......masss." desahku. Diremasnya kedua bongkahan bokongku.

"maaaasss....kamu apain bokongku maaassss....aduuhhhh....jangan dibelah gitu mas bokongku." Mau berontak tapi kakiku ditindih.

"Bokongmu gak berubah dari masih perawan dek. Kenyel, persis agar-agar. Gemesin." Kata Ustadz mesum-ku. Kedua tanganya semangat meremas bokongku. Menarik-narik kedua sisi bokongku, membelahnya. Dah pasti itu kedua lubang milikku, terpampang di depan matanya.

"Emhhh....maaass.....jangan lebar-lebar nariknyaaaa....." kataku sambil menoleh. Melihat ulah nakal suamiku. Aduh, itu matanya sampai melotot gitu.

"Aduh maaaasss......" lubangku semakin geli saja. Semakin lebar dia membelah bongkahan bokongku, makin ku kedut-kedutkan juga lubang kecil mungilku itu. Kenapa dia mainin lubang yg ituuuu.....malunya akuuuu....

Karena tingkahku itu, mas Aris sepertinya makin gemes, "lubangmu yang kecil ini kok imut banget ya dek. Warna kerutan di lubangnya juga merah, bersih dek." Hihihi...Kulihat mas Aris mendekatkan wajahnya ke bokongku. Mengamati.

"Ya bersih dong mas, ughhh.....ssttt..." aku menggelinjang, dia meniup lubang kecilku itu.

"Itulah untungnya adek jarang pakai daleman mas, ughhhh...ssttt.." aku menggelinjang lagi. Ditiup lagi. "Jadinya kan gak lembab mas di daerah situ, kering terus karena gak dibungkus celana dalam. Lebih sejuk."

"Kalau lagi jongkok atau ngapa-ngapain kan angin mudah masuk, gak bakalan lembab itu sela-sela bokongku mas..aduuhhh....sssttt.." sekarang bokongku di belah sambil di tiup-tiup.

"Walau bersih, tapikan tetep aja bau dek."

"Gak lah mas, harum kok. Masak, adek yang cantik montok ini badanya bau sih." Gerutuku sekaligus menggodanya.

Malam ini terasa gila. Entah kenapa. Aku sampai lupa status Ustadz dan Ustadzah yang kita sandang. Hingga....

"Cium aja kalau gak percaya mas." Kataku. Tuh kan gila. Hihihihi.......

Aku menoleh ke belakang, tersenyum menantangnya. "Gimana Ustadz mesum? berani?" Kulihat Mata mas Aris masih memandangi belahan bokongku.

"Kalau mas keblablasan gimana dek? Hehe..." Dia memandangku, nyengir. "Gak apa nanti lubang kecilmu ini teraniyaya?" Mas Aris balik menantang.

"Terserah mas lah." Kataku tak takut.

Aku angkat tubuh atasku, bertumpu pada kedua lengan. Karena yang ditindih mas Aris hanya sebatas di betisku. Kuangkat pinggulku, bongkahan bokongku pas tepat berada di depan wajahnya. Bokongku merekah membelah di depanya, dan kumundurkan lagi. Lebih nungging. "Inikan milikmu seutuhnya mas. Semuanya, semua yang ada di tubuhku. Mas aja yang kurang eksplor."



Sepertinya mas Aris masih terbengong. Pasti takjub memandangi bokongku, bokong kenyal yang bahenol. Hihihihi......

"Ughhh.....ssttt..." tangan mas Aris mulai mengusap. Mengelus dari atas sampai bawah, kiri dan kanan bagian-bagian bokongku. Memutar.

Ughhh...mulai di remas. Bongkahan bokongku diremas bersamaan. "Uggghhh.... jangan di pandangi aja massshhhhh....."

Kurasakan hembusan nafasnya di kulit bokongku. Sepertinya wajah mas Aris mendekat.

"Emmhhhhh...." terdengar suara mas Aris yang sedang mengendus, lebih mendekat ke celah sempit bokongku. "Emmmhhhh..." lagi, Mulai membaui lubang kecilku.

"Nungging lagi dek. Pahanya kamu rapatkan juga."

Aku turuti saja maunya. Ku angkat lagi bokongku lebih nungging dan merapatkan paha. Dan, ooooohhhh....benar. sekarang terasa bokongku lebih terbelah dan makin lebar.

"Naaahhh, gitu dek." Kata mas Aris meng-iyakan.

Hihihi....tau dari mana tuh mas Aris. Benar juga tuh arahannya. Kalau nungging dengan paha di buka lebar, pasti yang terekspos merekah itu lubang kelamin. Tapi kalau nungging dengan paha dirapatkan saling menempel, tentu saja lubang kelaminya tergencet bagian paha dalam. Sedangkan kedua bongkahan bokong langsung merekah, mengesplor lubang kecil yg berkerut itu. Aduh, jadi malu ini.

"Aduh....maaasss....ngapain sih," protesku. Mas Aris menampar-nampar bokongku pelan.

"Ini juga Ustadzah mesum." Kata suamiku, "mana ada Ustadzah berpose begini...hahhaha..."

Tapi malah ku goyang-goyang bokongku di depanya. "Biarin." Aku menggoda.

Sebenarnya aku malu sendiri sih. Tapi perasaan ceriaku - lega karena mas Aris tadi hanya bercanda dan tumbuhnya cinta lamaku dulu - membuat diriku terlampau senang. Ah, kepalang tanggung.

"Emmmhhhh.... loh, kok baunya harum gini ya dek. Emmmhh....." Mas Aris mulai mengendus, mendekatkan hidungnya di celah bokongku.

"Uggghhhh.......Ssssttttthhhhh....aduuuhhh...g eli massshhhh...." aku mendesah. Selagi mas Aris mengendus, tanganya tak tinggal diam. Mengelus-elus bokongku. Semakin geli karena tanganya mengelus seperti mencakar. Jari-jarinya mencakar lembut, memutar di bokongku.

"Harum dek, sedap aromanya. Kenapa lubang kecil milikmu ini bersih dan harum gini dek..."

Ditariknya bokongku ke belakang....

"Aughhhh.....maaasshhhh....geli bangeeeetttt" Tubuhku menggelinjang.

Aduuhhh......lubang kecilku di cium bibirnya, geliiii...... bahkan terasa hidung mancungnya menempel, mengendus makin dekat.

"Beneran harum dek."

"Eeeemmhhhh.... ssstthhhh.... i - iya dong massshhh.....tadi habis aku cuci." Aku menggelinjang lagi, "dengan resik-v."

Malam ini, kita lupa akan status sosial. Dan terlalu semangat melakukan hal baru. Hihihi...
Toh, tak ada yang tau.

"Aughhh.... maaaasss.....geli mas geliiiii....oogggghh...." aku menggelinjang lagi, lebih kaget. "Maaaasshhhh....jangan di..ugghhhhh...jangan di jilaaaattttt....."

"Harum dek, gak nahan buat coba rasanya." Ucap suamiku, di sela-sela bokongku.

"Ughhh....geliiiiiiiiii..." racauku. tanganya semakin mencengkeram bokongku. Menarik bokongku mundur dan membenamkan wajahnya.

Iiihhhh.....geliiii....rasanya bedaaaaa. Belum pernah aku merasakan geli nikmat seperti ini. Tubuhku makin merinding.

"Cup cup cup..... sruuuppp...." lidah dan bibir mas Aris semakin lincah menjelajah.

"Massshhhh......udah maaaassshhhh..." Geli bangeettt... aku sampai tak bisa membiarkan lubang kecilku itu untuk tak berkedut-kedut.

Semenit sudah aku nungging dan mas Aris asyik mainin lubang kecilku. Tak sekalipun dia menyentuh lubang kelaminku, sampai gatal rasanya.

"Masshhh....sudah maaaasss, geliiii ....ampun maasss...." kataku menoleh kebelakang. Lucu, melihat kepala Ustadz Aris-ku yang masih terbenam di sela-sela bokongku. "Itu lubang yang lain kok dianggurin sih mas, gatel iniiihhh....." tambahku dengan mendesah.

Malu iiihh...kenapa aku jadi malu-maluin giniiii...

"Anumu belum mas apa-apain kok dah basah gini dek."

Dengan inisiatif sendiri, aku lebarkan pahaku. Membuat lubang kecilku menutup dan merekahlah liang senggamaku.

"Ganti lubang mas. Kasihan tuh, yang satu dah ngiler gitu.." kataku bercanda. Lagi-lagi ucapanku tak bisa terkontrol. "Mas gak kangen apa? Dari kemarin kangen minta dicium tuh...."

"Hahaha....salahmu sendiri dek. Kemarin pake acaran ngambek segala."

"Biasa lah mas, wani...auuugggghhh....maaasshhh..." tubuhku menggelinjang hebat. Kaget seperti tersengat. Tanpa perkenalan awal dengan ciuman-ciuman lembut. Mas Aris langsung saja menghajar klitorisku. Menekan dan menggetar-getarkan dengan lidahnya. Geli nikmatnya sampai ke ubun-ubun.

Disaat lidahnya menjilati daging kecil milikku. Wajahnya yang terbenam di sela pantatku, membuat hidungnya juga mencolok-colok lubang kecilku. Lengkap sudah, kedua lubang sensitifku berkedut-kedut merespon setiap sentuhanya.....

"Ugghh....sstttt.....maaasshh.....enak maaasshh.....oooghhh...." racauku menahan nikmat. Kurebahkan kepalaku dibantal. Tak kuaaaattttt.....tapi bokongku semakin aku tunggingkan.

"Dielus maaasshhh...oghhh.....bokongnya juga di...ouughhhhh.....maaassshhh....diremasshhhh..."

"Ooggghhh...iya gitu massshhh....maasshhh.....hebattthhhh..." aku meracau tak karuan, menikmati ulah suamiku. Lidah mas Aris menjilat dan menyapu dari liang senggamaku sampai lubang kecilku yang berkerut dan berkedut-kedut. Berhenti di situ dan mencocolkan lidahnya, sampai terasa sedikit masuk.....ooogghhh nikmaaatttt....

Disaat lidah mas Aris masih berkutat di lubang kecilku - sepertinya dia lagi menikmati akan lubang barunya - kurasakan jarinya mengelus gerbang liang senggamaku. Seakan menggoda, menggelitik dan meminta ijin. Ku goyangkan bokongku merespon maksudnya.

"Ogghhh....maaasss....." desahku, menyambut laju jari yang menerobos liangku.

Baru saja tiga empat kali jari mas Aris memompa liang senggamaku, kurasa milikku sudah sangat banjir. Rangsangan dari pagi sampai sore tadi. Membuat milikku menjadi sangat sensitif.....ditambah simulasi dari lubang kecilku, lidah yang menari-nari di kerutan itu membuatku......

"Maaassshhh.... lebih cepat maaasshh...."

"Yang dalaaammmmhhhh....uugghhhtttt..."

"Lidahmu masukin maaasshhhh.....oooooogggghhhh..."

"Lubang kecilku nikmat....maaasshhhh....sedot maaasshhhh...."

Racauku bertubi-tubi. Bokongku semakin mundur. Minta lebih dalam.

"Ugh...ugh...ugh...ugh...."

Jari mas Aris makin gencar menusuk. Keluar masuk dengan cepat dan dalam....

"Maaaaaaassshhhh......." Kencang debaran jantungku membuat nafasku tersengal. Gelombang syahwatku meledak. Ada getaran hebat yang menjalar dari dalam tubuhku, mengalir ke syaraf-syaraf ototku, memuncak dan.......


"Héggghhhh... A..ku sam....pai maaassshhhhh.....ooogghhhh........." aku memekik. Serrrrrrrrrrr..........Tubuhku bergetar, mengejang merasakan nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh. Tanganku mencengkeram bantal kuat-kuat. "Oooooggghhhhh........nikmaaattthhhhhh.."

Tubuhku diam beberapa saat. Meresapi nikmatnya cinta dan ledakan gairah. Kelamin dan lubang kecilku masih berkedut berkontraksi......

"Sudah maasshhh.....huh huh huh huh.." nafasku masih tersengal.

"Gimana dek aksiku? Puas?"

"Huh hu huh huh.....iya mas, adek puas. Ustadz mesum-ku sungguh hebat." Jawabku dengan masih mengatur nafas. sekalian juga kuberi dia jempol. Dengan tanganku menjulur ke belakang, mengacungi dia jempol, masih dalam posisi nungging juga. Hihihih....

Kita masih saling bertatapan dan...

"hahahahhah..." mas Aris dan aku tertawa bersamaan. Terbahak-bahak. Mengakui bahwa yang dilakuin mas Aris tadi hal yang aneh. Gak menyangka aja kita -pasangan berstatus Ustadz- melakukan hal gila ini -menjilati lubang kecilku-. Sesekali mas Aris mengelap bibirnya yang basah karena lendir.hihihihihi......

"Mas foto ya dek, bokong seksimu ini. Ya, boleh?" Kata-kata mas aris mengagetkanku.

"Nanti kalau fotonya dilihat orang gimana mas? Mau ditaruh dimana mukaku mas." Aku balik nanya, "bisa-bisa gini nanti mas 'Ustazah Rozah yang alim itu binal juga ya', gituuu...... Emang mas gak takut apa?" Posisiku masih nungging. Hanya menoleh kebelakang.

"Ndak sampai begitu lah dek. Lagian cuma bokongmu aja, gak bakalan tau kalau itu bokongnya 'Ustadzah Rozah' yang cantik." Kata mas Aris membenarkan, sekaligus menggoda. Masuk akal juga sih kalau di fikir.

"Dasar mas emang beneran Ustadz mesum nih. Gara-gara jatuh kemarin ya mas, fikiranmu jadi error, hihihihi..."

"Oke? Boleh? Bayangin aja dek. Bokongmu yang nungging ini. Liang senggama milikmu yang paling rahasia ini. Di lihat orang tanpa tau itu milik siapa, yang sebenarnya milik Ustadzah Rozah, yang alim dan lemah lembut. Istri dari Ustadz Aris. Hahah....."

"Kamu memang perlu berobat mas. Hihihihi.." aku menggeleng tersenyum. "Cuma satu foto ya." Kataku meng-iyakan.

Kurapatka pahaku dan lebih nungging. Menuruti arahan dari mas Aris. Oogghhh.....bokongku merekah lagi... terasa kedua lubangku tertarik dan menganga. "cepetan mas di foto. Jangan dipandangi aja." Gerutuku karena malu bokongku jadi sasaran foto. Sebelah tangan mas Aris membelah bokongku, sepertinya memperjelas bagian lubang kecilku. Dan tangan yang satu lagi memegang HP dan memotret. "Klip" kilatan cahaya terang menerangi bokongku, dan merekamnya dalam kamera. Jadi sebuah foto!.

"Bagus dek. Kedua lubangmu merekah merah, indahnyaaa........Adek mau lihat?" Kata mas Aris girang.

"Gak mau ah, malu. Ayuk, diterusin mas." Ajakku.

"Kepalaku masih agak pusing dek. Tadi kan juga pake nunduk-nunduk." Kata mas Aris. Memegangi kepalanya. "Mungkin nanti gak bisa lama dek."

"Gak apa-apa mas, sekarang adek yang manjain mas." Aku mendekat. Mendorong mas Aris biar tiduran. "Langsung adek masukin ya, mumpung ini punya adek masih basah, lagian ini milikmu juga dah keras gini mas...hihihihi."

Mas Aris hanya mengangguk, memandangku tersenyum. Kemudian kepalanya diangkat, bermaksud ingin memandangi bagian bawah tubuhku yang mengangkangi senjatanya. Pasti untuk melihat proses tertelanya kejantanan miliknya. Menerobos dan membelah liang senggama sempit milikku.

"Oogghhh....." desak kita berdua bersamaan. Pelan-pelan kuturunkan pinggulku, meresapi setiap gesekan dari kejantanan suamiku.

"Ooggghhhhh.....lembut dek punyamu, semppiiiittttt.....uuuhhhh..." desah mas Aris. "Uugghhh.....enak deeeekk..."

Setelah pelan aku naik turunkan tubuhku. Aku merubah posisiku jadi berjongkok. Pakaian lengkap yang masih aku kenakan ini menyulitkan gerakanku. Apa lagi rok panjangku ini. Hingga posisi jongkoklah yang bisa aku lakukan.

Satu tanganku memegang rok, dan tangan yang satu lagi aku tumpukan di perut mas Aris sebagai penyangga. Aku mulai menggerakkan bokongku naik....turun.....

"Ugh ugh ugh ugh.....milikmu keras banget maaaaasssshhh....ooohhhh...." racauku. Genjotanku lebih cepat, menarik bokongku ke atas hingga kejantananya hampir terlepas dan menurunkannya sampai mentok bokongku menyentuh pahanya. "Uuuggghhh.....daleemmmm...." aku makin gencar naik turun, menikmati hentakan-hentakan nikmat yang ku buru. Mataku terpejam meresapi kerasnya benda yang mengaduk didalam. Kugoyang pinggulku memutar, "oooggghhhh....enak maasshh....tak genjot kontolmu massshhhh....kontolmu kerasss...." ulahku tak terkontrol. Ku gerakan tubuhku naik turu dan bergoyang memutar bergantian.

"Itu kontolmu deeekkk...i-itu milikmuuu....ogh ogh ogh ogh." Mas aris seperti kewalahan merasakan genjotanku. Sampai bicaranya pun terbata. "Kamu hebatthhh....deekkk..."

"Maasshhhh adek gak kuattthhh....ugh ugh ugh ughh..." terasa nafasku deras memburu dan sebentar lagi puncak nikmat akan ku dapat lagi. "Maassshhhh....ooogghh..." tapi.....

"Plup.." kejantanan mas Aris terlepas. Gerakan naik turunku tadi terlalu bersemangat. Hingga tak sengaja gerakan naik bokongku terlalu tinggi.

"Aduuuhhh....lepas masshh..." kataku. Aku terduduk di samping mas Aris karena kelelahan. Mengatur nafas lagi.

"Dek kamu nungging ya."

"Gak apa-apa kakimu mas?" Tanyaku meyakinkan. Tapi dah terlanjur. Nafsuku udah di ubun-ubun. Kuturuti saja apa maunya. Aku membalikkan tubuhku, menyangga bagian atasku dengan kedua tangan, dan mengangkat bokongku tinggi-tinggi di depanya.

"Sini kontolmu Ustadz mesum...hihihi..." aku masih saja menggodanya. Aduuhh....Kata-kataku kasar.

"Bu Ustadzah Rozah minta dimesumin ya," kata mas Aris menimpali, "sini memekmu aku genjot. Jangan bilang-bilang suamimu ya." Candanya keluar lagi. Hihihi...aku makin merinding dibuatnya.

Aku pegang kejantanan mas Aris dan menuntun menuju gerbang liang senggamaku. Sudah pas posisinya, tinggal dorong...

"Silahkan Pak Polisi, nikmati memek Ustadzah Rozah ini...sebelum suaminya pulang.." iiiihhhh.... fantasiku gilaa...

Kedua tangan mas Aris mencengkeram kedua bongkahan bokongku. Menariknya kebelakang dan mendorong pinggulnya pelan..."ooogghhhhhh....."aku melenguh, mendongakkan kepalaku ke atas. Merasakan nikmatnya kejantanan mas Aris membelah liang senggamaku. Oh ya, lupa. Merasakan nikmatnya kejantanan Pak Polisi yang kekar, membelah liang sempit senggamaku...serrrrrr....banjir sudah kelaminku.

Mas Aris langsung menggenjot cepat. Menghentak-hentakkan pinggulnya dan menarik maju mundur bokongku agar seirama dengan genjotanya..

"Ough ough ough...maaasahhh...enaaaakkk....." aku menggelinjang. Meracau menikmati tusukan kejantananya. Remasan dan tamparan di bokongku juga menambah kenikmatan lebih menjalar ke seluruh tubuh.

Mantab sekali hentakan-hentakan pinggulnya yang membentur bokongku. Membuat kedua bongkahan bokongku bergetar seperti agar-agar.

"Di genjot Mas apa Pak Polisi dek?" Tanya mas Aris disela genjotan kontolnya di kelaminku. Terasa genjotanya dipercepat, sengaja menggodaku.

Aku yang lagi dilanda nikmat sampai ubun-ubun ini, hanya bisa menoleh kebelakang, menatapnya sayu. Tak sanggup bicara. "Ogghh...oggh...oggh.." hanya mendesah.

Tapi mas Aris sepertinya sudah dilanda gairah..."aku Polisi bu Ustadzah....ogh ogh ogh.." mas Aris mulai meracau. Genjotannya makin mantab."Boleh aku mengawini-mu Buuuu??."

Serrrrrrrrr.........gairahku menggelora. Terpancing fantasi kata-kata yang diucapkam mas Aris. Genjotan mantab Mas Aris membuat logikaku hilang.

"Boleh aku mengawini-mu Bu Ustadzaaahh..?" Diulangi lagi.

"Silahkan Paaakkk.....kawinin aku...."

"Genjot bokong nunggingku Paaakkk..."

plok plok plok plok....
suara kejantanan mas Aris mengaduk-aduk kelaminku.

Gerakan maju mundur mas Aris makin cepat, sekarang kedua tanganya berpindah memegangi pinggulku. Sebagai pegangan untuk menarik mundur bokongku dan menghentakkan pinggulnya keras-keras.

"Aku mau keluuaarrr....deeekkk....." hentakanya makin keras.

Dua tiga kali dia masih mengeluar masukkan kejantananya. Kurenggangkan pahaku lebih lebar. Hingga milik mas Aris masuk makin dalam. Dan.....

"Oooooohhhh.......deeeeeeekkkkk." mas Aris menghentak keras....

Crot crot croot croot....Semburan mani hangat menembak -nembak rahimku. Tangannya mencengkeram bokongku kuat.

"Oooggghhh.....maaaasahhhh....hekkkk..." aku juga memekik, menyambut ledakan puncak syahwat. Seerrrrrrrrr.....

"Ssshhhtttttt......ooooggghhhhhh..." Kepalaku langsung mendongak. Meresapi kedutan-kedutan nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh.

Huh huh huh.......aku kecapean. Tubuh depanku ambruk. Sedangkan bokongku masih nungging, dengan kejantanan mas Aris masih terbenam didalamnya.

"Capek deeekkk......" Mas Aris menubrukku, menindihku dari belakang. Kita yang masih berpakaian ini sampai pengap rasanya dan nafas kita masih menderu. Aku menggeser tubuh mas Aris agar rebahan disampingku, jangan sampai bersentuhan lagi. Panas.

"Dek, besok bisa antar Mas?" Tanya suamiku. Setelah semenit tadi terdiam.

"Kemana mas? Mau ngapain emang?" Aku balik bertanya.

"Gak ngapa-ngapain dek. Cuman sepertinya, kita berdua perlu berobat dek. Karena malam ini kita gila, Huahahah...."

"Hahahah..." tawaku juga pecah. Kucubit hidung mas Aris tanda setuju. Tak menyangka aku bisa senakal ini. Hihihihihih....


●○●○●


By: max rayben

TAMAT

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad